Short
info GRESIK
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai historis
kota-kota pelabuhan yang besar, kota-kota pelabuhan ini besar karena menjadi
basis tata niaga yang mengandalkan transportasi laut. Ada banyak kota pelabuhan
yang sekarang tetap menjadi kota-kota utama di indonesia, diantaranya Surabaya
dan Jakarta.
Di Jawa Timur, kota pelabuhan juga tumbuh dan menjadi pusat
bersatunya berbagai budaya antar bangsa. Penyebaran agama-agama besar dunia
juga di mulai dari kota-kota pelabuhan, terutama Agama Islam yang menyebar di
Pulau Jawa. Kota Gresik yang mendapat julukan kota santri dan kota wali
merupakan kota yang besar dari perjalanan perantau muslim timur tengah dan
india. Banyak saudagar muslim yang singgah dan menetap di kota Gresik sehingga
dalam waktu singkat gresik telah menjadi pusat perkembangan agama islam yang
sangat pesat di Jawa Timur.
Masuknya budaya islam dan kultur niaga yang tinggi telah
menjadikan Gresik sebagai kota perdagangan utama bersamaan dengan perkembangan
kota pelabuhan Surabaya.Hal ini bisa dilihat dari bangunan-bangunan lama di
Jalan Nyi Ageng Arem-Arem alias Jalan Pekelingan. Rumah kuno itu dikenal
dengan julukan Gajah Mungkur. Bangunan itu memiliki patung gajah yang menghadap
rumah dan membelakangi jalan utama. Setiap hari ada saja pengunjung yang
berpose di depan bangunan itu.
Masih banyak lagi bangunan di kawasan Nyi Ageng Arem-Arem
yang secara fisik relatif terjaga. Meski terdapat perubahan pada bagian-bagian
tertentu, terutama warna cat yang berubah dari masa ke masa, nuansa tempo
doeloe masih terlihat jelas. Kekokohan dan keindahan Gajah Mungkur sangat jelas
terlihat ketika kita memasukinya.
Rumah Gajah Mungkur yang didirikan tahun 1896 ini
berarsitektur gaya kolonial. Dengan warna merah dan kuning yang mencolok,
bangunan lawas itu tampak berbeda dengan rumah-rumah lain di kawasan
Pekelingan. Di kaca pintu depan tertulis H Djaniya bin H Djaelan bin H Oemar.
Terdapat patung gajah yang menghadap ke rumah besar nan luas tersebut.
Patung gajah diletakkan membelakangi jalan utama atau
Kampung Kemasan. Bercat abuabu kehitaman, patung gajah ini dibuat semirip
mungkin dengan binatang aslinya. Terdapat 10 kamar tidur besar dan tiga kamar
mandi di ruang utama. Menurut cucu Hj Nur Rohmah, yaitu Jania, yang mempunyai
toko di depan rumah itu, bangunan itu sudah ditempati secara turun-temurun.
Mereka selalu merawatnya hingga kini untuk mengenang kakek buyutnya
sebagai pedagang besar pada masa lalu.
“Rumah ini sudah berumur 150 tahunan. Dulu bercat hitam dan
putih, namun sekarang diganti agar lebih bagus. Kami menghabiskan lima kuintal
cat hingga mencapai Rp 1 juta. Itu hanya untuk catnya saja, belum yang lain,”
kata Jania. Rumah di Jalan Nyi Arem-Arem ini merupakan bangunan sejarah yang
harus dipertahankan. Menurut dia, sampai sekarang bangunan tersebut belum
ditangkap sebagai aset berharga oleh Pemkab Gresik.
Sudah sepatutnya bangunan tua di gresik mulai di buat studi
historisnya dan di kelola sebagai kampung budaya warisan leluhur. Tata kelola
kampung budaya ini bisa menjadi penyeimbang perkembangan industri di gresik
yang kekurangan wisata kota. bahkan jika dikelola dengan manajemen yang tepat,
kampung budaya ini bisa menjadi area hiburan, kuliner, dan museum yang
menyajikan eksotika kota gresik sebagai kota warisan budaya Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ucapan yang keluar dari mulut anda merupakan cerminan dari masa depan anda :)